KELOMPOK - KELOMPOK SOSIAL
A.
Pengertian kelompok
sosial
Kelompok
merupakan salah satu konsep yang penting dalam sosiologi. Ada beberapa
pengertian yang menyangkut kelompok. Menurut Horton dan Chester (1987) kelompok
mencakup banyak bentuk interaksi manusia. Hakekat keberadaan kelompok sosial
bukanlah terletak pada kedekatan atau jarak fisik, melainkan pada kesadaran
untuk berinteraksi. Kesadaran berinteraksi diperlukan oleh mereka untuk dapat
menciptakan suatu kelompok, sedangkan kehadiran fisik kadang-kadang sama sekali
tidak diperlukan. Banyak kelompok yang para anggotanya jarang sekali bertemu,
namun mereka saling berinteraksi melalui surat menyurat, telepon, mass media,
dan sebagainya.
Menurut
Seorjono (2003) kelompok sosial adalah himpunan atau kesatuan manusia yang
hidup bersama, oleh karena adanya hubungan antara mereka. Hubungan tersebut
antara lain menyangkut hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi dan juga
suatu kesadaran untuk saling tolong-menolong.
Suatu
kelompok sosial adalah suatu kesatuan yang terdiri dari dua orang atau lebih
dimana diantara mereka terjadi komunikasi dua arah atau timbal balik serta
interaksi satu dengan yang lainnya. Jarak fisik yang dekat tidak menjadi ukuran
karena belum tentu terjadi interaksi, tetapi pada kesadaran untuk berinteraksi.Kelompok
Sosial atau Social Group adalah himpunan atau kesatuan - kesatuan manusia yang
hidup bersama, oleh karena adanya hubungan antara mereka. Hubungan tersebut
antara lain menyangkut hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi dan juga
suatu kesadaran untuk saling menolong.
Kelompok
sosial merupakan sekumpulan orang yang memiliki kesadaran keanggotaan dan
saling berinteraksi, misalnya anak-anak sudah mulai bermain bersama,
pengusaha-pengusaha mempunyai perhatian yang sama di pasar bursa atau di suatu
tempat pertandingan. Pada saat itulah tercipta suatu kelompok walaupun waktunya
singkat. Sebaliknya, dalam sebuah kereta api atau bis yang penuh dengan
penumpang belum tentu terbentuk suatu kelompok sosial, karena diantara para
penumpangnya tidak terjadi suatu kesadaran untuk saling berinteraksi.
Dalam
kelompok sosial perlu dibedakan pengertian agregasi sosial dan kategori sosial.
Agregasi sosial merupakan kumpulan orang dalam arti pengelompokan secara fisik
tanpa mempersoalkan adanya komunikasi diantara mereka. Akan tetapi, suatu
agregasi sosial dapat membentuk suatu kelompok sosial walaupun hanya untuk
sementara apabila terjadi suatu komunikasi dan interaksi diantara mereka,
misalnya dalam suatu bis yang penuh dengan penumpang, dalam perjalan supir
terlalu cepat menjalankan bisnya sehingga penumpang merasa terganggu dan takut
terjadi sesuatu atas sikap supir yang ugal-ugalan, kemudian penumpang secara
berkelompok berusaha menegur supir agar menjalankan bisnya dengan hati-hati.
Dalam hal ini, kesadaran berinteraksi para penumpang diperlukan untuk
menciptakan suatu kelompok.
a)
Faktor-faktor
pembentukan kelompok sosial diantaranya adalah:
1.
Keturunan atau geneologi
satu nenek moyang
2.
Tempat tinggal bersama
atau territorial
3.
Kepentingan bersama
b)
Syarat lelompok
sosial :
1.
Setiap anggota
kelompok tersebut harus sadar bahwa dia merupakan sebagian dari kelompok yang
bersangkutan;
2.
Ada hubungan
timbal balik antara anggota yang satu dengan anggota lainnya (interaksi);
3.
Terdapat
suatu faktor (atau beberapa faktor) yang dimiliki bersama oleh anggota -
anggota kelompok itu, sehingga hubungan antara mereka bertambah erat. Faktor
tadi dapat merupakan nasib yang sama, kepentingan yang sama, tujuan yang sama,
ideologi politik yang sama dan lain – lain;
4.
Ada
struktur;
5.
Ada perangkat
kaidah-kaidah;
6.
Menghasilkan
sistem tertentu.
B.
Macam-Macam
Kelompok Sosial
a)
Klasifikasi Macam-Macam Kelompok Sosial
Menurut
Robert Bierstedt, kelompok memiliki banyak jenis dan dibedakan berdasarkan ada
tidaknya organisasi, hubungan sosial antara kelompok, dan kesadaran jenis.
Bierstedt kemudian membagi kelompok berdasarkan ada tidaknya organisasi
hubungan sosial antara kelompok, dan kesadaran jenis menjadi empat macam antara
lain:
1.
Kelompok
statis, yaitu kelompok yang bukan organisasi, tidak memiliki hubungan sosial
dan kesadaran jenis di antaranya. Contoh: Kelompok penduduk usia 10-15 tahun di
sebuah kecamatan.
2.
Kelompok
kemasyarakatan, yaitu kelompok yang memiliki persamaan tetapi tidak mempunyai
organisasi dan hubungan sosial di antara anggotanya.
3.
Kelompok
sosial, yaitu kelompok yang anggotanya memiliki kesadaran jenis dan berhubungan
satu dengan yang lainnya, tetapi tidak terikat dalam ikatan organisasi. Contoh:
Kelompok pertemuan, kerabat, dan lain-lain.
4.
Kelompok
asosiasi, yaitu kelompok yang anggotanya mempunyai kesadaran jenis dan ada
persamaan kepentingan pribadi maupun kepentingan bersama. Dalam asosiasi, para
anggotanya melakukan hubungan sosial, kontak dan komunikasi, serta memiliki
ikatan organisasi formal. Contoh: negara, sekolah, dan lain-lain.
Berdasarkan
interaksi sosial agar ada pembagian tugas, struktur dan norma yang ada,
kelompok sosial dapat dibagi menjadi beberapa macam, antara lain:
1.
Kelompok
Primer
Merupakan
kelompok yang didalamnya terjadi interaksi sosial yang anggotanya saling
mengenal dekat dan berhubungan erat dalam kehidupan, sedangkan menurut Goerge Homan, kelompok primer merupakan
sejumlah orang yang terdiri dari beberapa orang yang acapkali berkomunikasi
dengan lainnya sehingga setiap orang mampu berkomunikasi secara langsung (bertatap
muka) tanpa melalui perantara. Misalnya, keluarga, RT, kawan sepermainan,
kelompok agama, dan lain-lain.
2.
Kelompok
Sekunder
Jika
interaksi sosial terjadi secara tidak langsung, berjauhan, dan sifatnya kurang
kekeluargaan. Hubungan yang terjadi biasanya bersifat lebih objektif. Misalnya,
partai politik, perhimpunan serikat kerja dan lain-lain.
3.
Kelompok
Formal
Pada
kelompok ini ditandai dengan adanya peraturan atau Anggaran Dasar (AD),
Anggaran Rumah Tangga (ART) yang ada. Anggotanya diangkat oleh organisasi.
Contoh dari kelompok ini adalah semua perkumpulan yang memiliki AD/ART.
4.
Kelompok
Informal
Merupakan
suatu kelompok yang tumbuh dari proses interaksi, daya tarik, dan kebutuhan-kebutuhan
seseorang. Keanggotan kelompok biasanya tidak teratur dan keanggotaan ditentukan
oleh daya tarik bersama dari individu dan kelompok. Kelompok ini terjadi
pembagian tugas yang jelas tapi bersifat informal dan hanya berdasarkan
kekeluargaan dan simpati. Misalnya, kelompok arisan dan sebagainya.
b)
Kelompok Sosial Dipandang dari Sudut Individu
Suatu
individu merupakan kelompok kecil dari suatu kelompok sosial atas dasar usia,
keluarga, kekerabatan, seks, pekerjaan, hal tersebut memberikan kedudukan
prestise tertentu/sesuai adat istiadat. Dengan kata lain keanggotaan dalam masyarakat
tidak selalu gratis.
c)
In
Group dan
Out Group
In group merupakan
kelompok sosial yang dijadikan tempat oleh individu-individunya untuk
mengidentifikasikan dirinya. Out group merupakan
kelompok sosial yang oleh individunya diartikan sebagai lawan in group jelasnya kelompok sosial di
luar anggotanya disebut out group. Contohnya, istilah kita atau kami
menunjukkan adanya artikulasi in group,
sedangkan mereka berartikulasi out group.
Perasaan in group atau out group didasari dengan suatu sikap
yang dinamakan etnosentris, yaitu adanya anggapan bahwa kebiasaan dalam
kelompoknya merupakan yang terbaik dibandingkan dengan kelompok lainnya. Sikap in group dan out group dapat dilihat dari kelainan berwujud antagonisme atau
antipati. Sikap in group dan out group merupakan dasar sikap etnosentrisme
yang merupakan sikap bahwa setiap sesuatu yang merupakan produk kelompoknya
dianggap paling baik dan benar.
d)
Kelompok Primer dan Kelompok Sekunder
Charles Horton Cooley mengemukakan
tentang kelompok primer (primary group)
atau face to face group merupakan
kelompok sosial yang paling sederhana, dimana para anggota-anggotanya saling
mengenal, di mana ada kerja sama yang erat. Contohnya, keluarga, kelompok
bermain, dan lain-lain. Kelompok sekunder (secondary
group) ialah kelompok yang terdiri dari banyak orang, bersama siapa
hubungannya tidak perlu berdasarkan pengenalan secara pribadi dan sifatnya
tidak begitu langgeng, contohnya, hubungan kontrak jual beli.
e)
Paguyuban dan
Patembayan
Tonnies
dan Loomis menyatakan bahwa paguyuban (gemeinschaft)
ialah bentuk kehidupan bersama, di mana para anggota-anggotanya diikat oleh
hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta kekal, dasar hubungan
tersebut adalah rasa cinta dan rasa persatuan batin yang memang telah
dikodratkan. Hubungan seperti ini dapat dijumpai dalam keluarga, kelompok
kekeluargaan, rukun tetangga, dan lain-lain.
Patembayan
(gesellschaft) yaitu berupa ikatan
lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek, bersifat imajiner dan
strukturnya bersifat mekanis sebagaimana terdapat dalam mesin. Ia bersifat
sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka. Contohnya, ikatan antar pedagang,
organisasi dalam suatu pabrik, dan lain- lain.
f)
Formal
Group dan
Informal Group
J.A.A. Van Doorn membedakan
kelompok formal dan informal. Formal
group ialah kelompok yang mempunyai peraturan tegas dan sengaja diciptakan
oleh anggota-anggotanya untuk mengatur hubungan antara sesama, contohnya,
organisasi. Informal group tidak
mempunyai struktur dan organisasi tertentu atau yang pasti. Kelompok-kelompok
tersebut biasanya terbentuk karena pertemuan-pertemuan yang berulang kali, yang
menjadi dasar pertemuan, kepentingan-kepentingan dan pengalaman-pengalaman yang
sama, contohnya, klik (clique).
g)
Membership Group & Reference Group
Membership group merupakan
suatu kelompok di mana setiap orang secara fisik menjadi anggota kelompok
tersebut. Reference group ialah
kelompok-kelompok sosial yang menjadi acuan bagi seseorang (bukan anggota
kelompok tersebut) untuk membentuk pribadi dan perilakunya. Robert K. Merton
dengan menyebut beberapa hasil karya Harold H. Kelley, Shibutani, dan Ralph
H.Turner mengemukakan adanya dua tipe umum reference
group yakni tipe normatif, yang menentukan dasar-dasar bagi kepribadian
seseorang dan tipe perbandingan, yang merupakan pegangan bagi individu di dalam
menilai kepribadiannya.
h)
Kelompok Okupasional dan Volunter
Kelompok
okupasional adalah kelompok yang muncul karena semakin memudarnya fungsi
kekerabatan, di mana kelompok ini timbul karena anggotanya memiliki pekerjaan
yang sejenis. Contohnya, kelompok profesi, seperti asosiasi sarjana farmasi,
ikatan dokter indonesia, dan lain-lain. Okupasional diambil dari kata okupasi
yang berarti menempati tempat atau objek kosong yang tidak mempunyai penguasa,
dalam hal ini dicontohkan kelompok tersebut adalah orang-orang yang dapat
memonopoli suatu teknologi tertentu yang mempunyai patokan dan aturan tertentu
seperti halnya etika profesi, sedangkan volunter adalah orang yang mempunyai
kepentingan yang sama, namun tidak mendapat perhatian dari masyarakat. Kelompok
ini dapat memenuhi kepentingankepentingan anggotanya secara individual, tanpa
mengganggu kepentingan masyarakat secara umum. Terjadinya kelompok volunter
karena beberapa hal antara lain:
1.
kebutuhan
sandang dan pangan;
2.
kebutuhan
keselamatan jiwa dan raga;
3.
kebutuhan
akan harga diri;
4.
kebutuhan
untuk dapat mengembangkan potensi diri;
5.
kebutuhan
akan kasih sayang.
i)
Kelompok-kelompok Sosial yang Teratur dan Tidak Teratur
Kelompok
teratur merupakan kelompok yang mempunyai peraturan tegas dan sengaja
diciptakan anggota-anggotanya untuk mengatur hubungan antar mereka. Ciri-ciri
kelompok teratur, antara lain:
1)
Memiliki
identitas kolektif yang tegas (misalnya tampak pada nama kelompok, simbol
kelompok, dan lain-lain).
2)
Memiliki
daftar anggota yang rinci.
3)
Memiliki
program kegiatan yang terus-menerus diarahkan kepada
4)
Pencapaian
tujuan yang jelas.
5)
Memiliki
prosedur keanggotaan.
Contoh
kelompok teratur antara lain berbagai perkumpulan pelajar atau mahasiswa,
instansi pemerintahan, parpol, organisasi massa, perusahaan, dan lainlain.
Kelompok-kelompok sosial yang tidak teratur terdiri dari berbagai macam, antara
lain:
1)
Kerumunan (Crowd) adalah individu yang berkumpul secara
bersamaan serta kebetulan di suatu tempat dan juga pada waktu yang bersamaan.
Bentuk-bentuk
kerumunan antara lain:
a.
Khalayak
penonton atau pendengar yang formal (Formal audiences) Merupakan
kerumunan-kerumunan yang mempunyai pusat perhatian dan persamaan tujuan, tetapi
sifatnya pasif, contohnya menonton film.
b.
Kelompok
ekspresif yang telah direncanakan (Planned Expressive Group) Adalah kerumunan
yang pusat perhatiannya tidak begitu penting, tetapi mempunyai persamaan tujuan
yang tersimpul dalam aktifitas kerumunan tersebut serta kepuasan yang
dihasilkannya. Fungsinya adalah sebagai penyalur ketegangan-ketegangan yang
dialami orang karena pekerjaan sehari-hari, contoh orang yang berpesta,
berdansa, dsb.
2)
Kerumunan
yang bersifat sementara (Casual crowds)
a.
Kumpulan
yang kurang menyenangkan (inconvenient aggregations) Dalam kerumunan itu
kehadiran orang-orang lain merupakan halangan terhadap tercapainya maksud
seseorang. Contoh; orang-orang yang antri karcis, orang-orang yng menunggu bis
dan sebagainya.
b.
Kerumunan
orang yang sedang dalam keadaan panik (panic
crowd) Yaitu orang-orang yang bersama-sama menyelamatkan diri dari suatu
bahaya.
c.
Kerumunan
penonton (spectator crowd), karena
ingin melihat suatu kejadian tertentu. Kerumunan semacam ini hampir sama dengan
khalayak penonton, tetapi bedanya adalah bahwa kerumunan penonton tidak direncanakan,
sedangkan kegiatan-kegiatan juga pada umumnya belum tak terkendalikan.
3)
Kerumunan
yang berlawanan dengan norma-norma hukum
a.
Kerumunan
yang bertindak emosional.
b.
Kerumunan
yang bersifat imoral.
C.
Faktor Pembentukan Kelompok Sosial
- Kedekatan
Pengaruh
tingkat kedekatan, atau kedekatan geografis, terhadap keterlibatan seseorang
dalam sebuah kelompok tidak bisa diukur. Kita membentuk kelompok bermain dengan
orang-orang di sekitar kita. Kita bergabung dengan kelompok kegiatan sosial
lokal. Kelompok tersusun atas individu-individu yang saling berinteraksi.
Semakin dekat jarak geografis antara dua orang, semakin mungkin mereka saling
melihat, berbicara, dan bersosialisasi. Singkatnya, kedekatan fisik meningkatkan
peluang interaksi dan bentuk kegiatan bersama yang memungkinkan terbentuknya
kelompok sosial. Jadi, kedekatan menumbuhkan interaksi, yang memainkan peranan
penting terhadap terbentuknya kelompok pertemanan.
- Kesamaan
Pembentukan
kelompok sosial tidak hanya tergantung pada kedekatan fisik, tetapi juga kesamaan
di antara anggota-anggotanya. Sudah menjadi kebiasaan, orang lebih suka
berhubungan dengan orang yang memiliki kesamaan dengan dirinya. Kesamaan yang
dimaksud adalah kesamaan minat, kepercayaan, nilai, usia, tingkat intelejensi,
atau karakter-karakter personal lain. Kesamaan juga merupakan faktor utama
dalam memilih calon pasangan untuk membentuk kelompok sosial yang disebut
keluarga.
D.
Contoh
Kelompok Sosial di Masyarakat
Contoh
kelompok sosial yang ada dalam kehidupan bermasyarakat, antara lain adalah sebagai
berikut;
- Keluarga, disadari ataupun tidak keluarga adanya bagian
daripada kelompok sosial dalam masyarakat. Hal ini didasarkan pada
kebutuhan setiap orang dalam mendapatkan pendidikan pertamakalinya dalam
keluarga. Maka tak hayal jika keluarga adalah bagian kelompok sosial yang
primer.
- Partai Politik, contoh lainnya dari kelompok sosial
adalah Parpol (Partai Politik) yang menjadia bagian daripada Lembaga
Politik. Jenis kelompok sosial ini adalah kelompok sosial skunder yang
tidak wajib untuk diikuti akan tetapi sesuai dengan keinginnannya, jika
seseorang ingin mendapatkan jabatan di pemerintahan seperti Gubernur,
Bupati, DPR, dan lainnya maka mengikuti Partai Politik adalah hal yang
wajib.
- PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) adalah salah
satu contoh kelompok sosial dalam masyarakat. Kelompok sosial ini
dinamakan dengan kelompok sosial skunder, yang tidak harus diikuti oleh
semua masyarakat, akan tetapi penting diikuti oleh masyarakat yang menjadi
tenaga pendidikan (guru).
- Koperasi Desa adalah salah satu jenis kelompok sosial
dalam masyarakat. Kelompok sosial ini termasuk dalam kelomok sosial formal
yang memiliki peraturan dan ketentuan untuk bergabung, menambung, atau
pengelolaannya. Peraturan yang ada dalam kelompok sosial ini tentusaja
harus di taati oleh seluruh anggota dalam masyarakat yang mengikutinya.
- Kepanitian Acara, contoh lainnya menganai kelompok
sosial dalam masyarakat yang umumnya terjadi adalah kepanitian di suatu
acara, baik acara pengajian, acara sholawatan, atau acara pernikahan. Jenis
kelompok sosial ini adalah kelompok sosial skunder yang mengikat bagi
anggotanya dan tidak berlaku untuk masyarakat secara keseluruhan.
- Kelompok Kelas di Sekolah, contoh lainnya dalam
kelompok sosial yang hadir di setiap kehidupan kita misalnya saja ketika
seseorang berada di lingkungan sekolah (lembaga pendidikan) ketika akan
menaiki kelas di sekolah ada persatuan kelompok, persatuan ini beragam
namanya. Contohnya saja adalah Compas 3 (comunity IPS 3). Maka dapat
dikatakan jenis kelompok sosial ini adalah kelompok sosial yang informal.
- Anggota RW, contoh selanjutnya mengenai kelompok sosial
dalam masyarakat adalah nggota RW atau RT di kalangan masyarakat. Jenis
kelompok sosial ini adalah kelompok sosial in group yang memberikan member
kepada seluruh anggota masyarakatnya, akan tetapi khusus untuk para
masyarakat yang berada di RW atau RT tertentu.
- Paguyuban Masyarakat Cirebon, contoh lainnya mengenai
kelompok sosial dalam masyarakat adalah paguyubanan cirebon. Yang hampir
ada disetiap wilayah di Indonesia. kelompok sosial berupa paguyuban ini
terbentuk karena adanya persamaan antara masyarakat satu dengan lainnya,
persamaan yang ada diakibatkan karena adanya persamaan tempat wilayah
(orang-orang yang berasalh di Cirebon).
DAFTAR PUSTAKA
Machmudin,
Dudu Duswara. 2010. Pengantar Ilmu Hukum. Bandung. Refika Aditama
Soekanto,
Soerjono. 1988. Pokok - Pokok Sosiologi Hukukm. Jakarta. PT Raja
Grafindo Persada
Soekanto,
Soerjono. 1977. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta. Universitas
Indonesia
Comments
Post a Comment